Ketika Warung Makan Bu Ulfa Jadi "Laboratorium Hidup" dan Mesin Penggerak Ekonomi Kampus

Reporter : Redaksi

SURABAYA | okejatim.com - Perguruan tinggi kerap kali diidentikkan dengan teori-teori akademis yang berjarak dari realitas masyarakat. Namun, program pengabdian masyarakat antara Universitas Airlangga (Unair) dan Warung Makan Bu Ulfa di Kelurahan Pacar Kembang, Surabaya, membuktikan hal sebaliknya. Ketika ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna diturunkan langsung ke dapur usaha mikro, dampaknya sanggup menggerakkan roda ekonomi warga sekaligus mentransformasi proses belajar mahasiswa.

Selasa, 8 September 2026

Warung Makan Bu Ulfa merupakan usaha kuliner skala mikro milik warga miskin binaan Pemerintah Kota Surabaya kategori Desil 2. Sebelum pendampingan, produksi berjalan lambat akibat bumbu diproses secara manual dengan ulekan cobek, peralatan kurang higienis, serta tata kelola keuangan belum rapi.



Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dari Universitas Airlangga (Unair) yang terdiri dari Tri Siwi Agustina (FEB), Puput Tri Komalasari (FEB) dan Bambang Soeharto (Fakultas Vokasi) menghadirkan solusi presisi dengan melibatkan 21 mahasiswa dari tiga mata kuliah berbeda. Mereka mempraktikkan langsung materi perkuliahan pada usaha Bu Ulfa melalui skema rekognisi mata kuliah sebagai salah satu syarat kelulusan. Ketiga mata kuliah tersebut meliputi Manajemen Usaha Kecil Menengah (S1 Manajemen), Manajemen Kreativitas dan Inovasi serta Wirausaha Fashion dan Kuliner (S2 PSDM Peminatan Industri Kreatif).

Para mahasiswa terjun membantu berbagai aspek usaha. Pada sektor produksi, peremajaan alat memasak standar pangan (food grade) dilakukan. Penggunaan alat-alat masak berteknologi seperti chopper telah memangkas waktu pemrosesan memasak dari 5 jam hingga 3 jam, karena sebelumnya pembuatan bumbu dilakukan secara manual.

Inovasi kuliner diajarkan lewat pelatihan pembuatan bakso nangka muda (tewel) berbasis metode Doing-Observation-Reflection-Action (DORA). Hasilnya, mitra terampil memproduksi variasi menu baru seperti Mie Ayam Toping Ceker Bakso Tewel hingga Capcay. Mahasiswa juga membedah tata kelola harga, menyusun buku menu, meredesain identitas visual (branding) pada kemasan, hingga mendaftarkan lokasi warung di Google Maps dan mendampingi penggunaan transaksi digital QRIS.

Sinergi ini membuahkan hasil manis. Omzet harian Warung Bu Ulfa yang awalnya stagnan di Rp150.000 per hari, melonjak hingga rata-rata Rp250.000–Rp300.000 per hari pasca pendampingan hingga Agustus 2026 atau naik sebesar 70 persen. Capaian ini mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs) No. 1 (Tanpa Kemiskinan) dan No. 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi).

Keberhasilan ini menuai pujian tinggi saat peninjauan lapangan oleh Tim Reviewer Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) pada 10 September 2026. Tim reviewer memberikan apresiasi sangat positif karena program dinilai sangat "membumi" dan menjawab kebutuhan nyata mitra.

Reviewer memberikan apresiasi khusus atas skema rekognisi mata kuliah yang menjadikan Warung Makan Bu Ulfa sebagai "laboratorium" pembelajaran langsung bagi mahasiswa. Kolaborasi ini membuktikan bahwa hilirisasi riset dan pendidikan kampus mampu menghadirkan solusi konkret yang memberdayakan masyarakat di tingkat akar rumput.

Editor : Redaksi

Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru