Surabaya - Di tengah laju peradaban dan kemajuan teknologi yang melesat begitu cepat, kegelisahan manusia justru kian nyata. Semakin banyak yang dicapai, semakin terasa ada ruang kosong yang tak terisi. Fenomena ini seakan menegaskan satu hal penting: pencapaian horizontal tidak pernah benar-benar mampu menggantikan kebutuhan vertikal manusia kepada Tuhannya.
Peristiwa agung Isra Mi’raj hadir sebagai penegas bahwa solusi terdalam manusia tidak selalu lahir dari bumi, melainkan sering kali datang dari langit yang dibukakan oleh Allah SWT. Ia bukan sekadar kisah perjalanan luar biasa, tetapi simbol relasi antara manusia dan Rabb-nya—relasi yang menjadi sumber ketenangan, arah, dan kekuatan.
Rasulullah SAW diangkat ke langit bukan pada masa kejayaan yang penuh sorak-sorai, melainkan pada fase kehidupan yang sunyi dan berat. Beliau menghadapi luka fisik dan batin, penolakan, hinaan, serta kehilangan orang-orang tercinta. Namun Allah tidak serta-merta mengubah keadaan dunia. Allah justru lebih dahulu menguatkan hati Rasul-Nya .
Para ulama memandang peristiwa ini sebagai isyarat halus namun mendalam: kedekatan sejati dengan Allah SWT sering kali lahir ketika dunia tidak lagi memberi sandaran. Saat semua pintu terasa tertutup, langit justru dibukakan.
Isra Mi’raj bukanlah kisah pelarian dari realitas, melainkan penguatan spiritual dari Tuhan Semesta Alam agar manusia mampu bertahan menghadapi zaman yang rapuh. Ia menjadi pelajaran penting bagi umat akhir zaman yang kerap mendambakan perubahan instan, namun sering melupakan pembenahan akar spiritual.
Karena itu, Isra Mi’raj sejatinya adalah undangan, bahkan panggilan bagi umat Rasulullah untuk melakukan Mi’raj kesadaran: naik dari lalai menuju sadar, dari sibuk menuju tunduk, dari rutinitas menuju penghambaan yang tulus.
Di tengah dunia yang semakin gaduh dan arah hidup yang kian kabur, kejujuran dalam sujud kepada Allah SWT menjadi satu-satunya penunjuk jalan yang tak pernah keliru. Bisa jadi, dari sanalah keselamatan di akhir zaman bermula. Bukan dari langit yang kasat mata, melainkan dari hati yang kembali terikat erat kepada Allah .
Rasulullah bersabda:
“Akan datang suatu zaman, manusia tidak mendapatkan dari Islam kecuali namanya, dan tidak mendapatkan dari Al-Qur’an kecuali tulisannya.”(HR. Al-Baihaqi)
Sekilas, hadis ini terdengar seperti vonis yang keras. Namun jika ditelaah lebih dalam, ia adalah peringatan penuh kasih: bahwa di suatu masa, agama berisiko tinggal sebagai simbol, kehilangan ruh dan substansinya.
Salah satu ciri akhir zaman yang dijelaskan Rasulullah SAW adalah berkurangnya keberkahan waktu dan melemahnya kualitas ibadah. Manusia semakin sibuk, namun semakin jauh dari ketenangan. Informasi melimpah, tetapi hikmah terasa semakin langka.
Di titik inilah Isra Mi’raj kembali mengingatkan kita bahwa tali penghubung antara bumi dan langit, antara manusia dan Rabb-nya, tak lain adalah Shalat. Ia bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan jalan Mi’raj harian, tempat jiwa kembali menemukan arah, makna, dan ketenangan sejati.
Editor : Redaksi