Detoks Digital di Bulan Ramadhan: Ujian Sunyi Wartawan di Tengah Notifikasi

SURABAYA — Bulan suci Ramadan identik dengan menahan lapar dan dahaga. Namun bagi Bayu, wartawan media siber DimensiNews.co.id, Ramadhan tahun ini menjadi momentum menahan sesuatu yang tak kalah sulit, yakni notifikasi ponsel.

Di tengah aktivitasnya di Surabaya, ia mencoba menjalani tantangan 24 jam tanpa telepon genggam. Tepat pukul 04.30 WIB usai sahur, ponsel dimatikan dan disimpan. Tidak ada WhatsApp redaksi, tidak ada media sosial, tidak ada scrolling berita.

“Kalau puasa melatih menahan lapar, detoks digital ini melatih menahan distraksi,” ujarnya.

Jam-jam pertama setelah Subuh terasa berat. Dorongan refleks untuk mengecek layar muncul berkali-kali. Dalam dunia jurnalistik yang serba cepat, ponsel adalah “nyawa kedua”. Informasi, konfirmasi narasumber, hingga breaking news bergantung pada genggaman.

Memasuki siang hari, rasa gelisah sempat muncul. Kekhawatiran tertinggal informasi redaksi menjadi ujian tersendiri. Namun di sisi lain, ia merasakan fokus yang berbeda. Tanpa notifikasi berbunyi, yang menurutnya justru malah membuatnya lebih khusyuk menyusun naskah dan membaca referensi.

Momen puasa membuat eksperimen ini terasa lebih bermakna. Ramadhan bukan sekadar ritual fisik, melainkan latihan mengendalikan diri, termasuk dari paparan digital berlebihan.

Waktu istirahat siang yang biasanya diisi dengan berselancar di media sosial, kini diganti dengan membaca buku dan refleksi diri.

Menjelang berbuka, suasana terasa lebih tenang. Interaksi dengan keluarga berlangsung tanpa gangguan layar menyala. Percakapan terasa utuh, tanpa mata yang sesekali menunduk ke notifikasi.

Eksperimen 24 jam tanpa ponsel di bulan Ramadhan itu memberikan satu pelajaran penting: di era konektivitas tanpa henti, puasa bisa menjadi momentum detoks bukan hanya bagi tubuh, tetapi juga pikiran.

Sehari tanpa notifikasi mungkin terdengar sederhana. Namun di tengah dunia yang terus berbunyi, keheningan justru menjadi kemewahan. Ramadhan menghadirkan ruang untuk itu,.ruang untuk kembali fokus, hening, dan terkoneksi secara lebih manusiawi. (Yd)

Editor : Redaksi

Berita   

Inyong Maulana Dukung AWS Mengedepankan Kebebasan Pers

Ketua Seksi Wartawan Surabaya PWI Jatim sekaligus Ketua Pokja Jurnalis Dewan Surabaya (Judes), Inyong Maulana mendukung langkah Aliansi Wartawan Surabaya (AWS) yang terus mengampanyekan kebebasan pers di tengah gempuran…