Surabaya Pesisir yang Selalu Siap, Kecuali Saat Air Datang


Mitigasi, dan Harapan Belajar dari Air

Ali Yusa,

Pengurus Wilayah Persatuan Insinyur Indonesia Jawa Timur
Dewan Pakar IKA ITS Jawa Timur
Dosen Teknik Kontruksi Perkapalan Univ. Muhammadiyah Gresik

Di negeri yang gemar membuat rencana lima tahunan, pesisir adalah pengingat paling jujur bahwa alam bekerja dengan kalendernya sendiri. Surabaya, kota yang hidup dari muara dan laut, berkali-kali menyatakan diri siap menghadapi banjir rob. Laut, dengan kesopanan khasnya, selalu datang tepat waktu untuk menguji klaim itu.

Secara matematis, laut bekerja sederhana. Kenaikan muka air sekitar 5 milimeter per tahun, penurunan muka tanah sekitar 4 sentimeter per tahun. Dalam satu siklus perencanaan, perubahan elevasi relatif mencapai lebih dari 20 sentimeter. Angka ini kecil di layar presentasi, tetapi cukup untuk membuat lantai rumah warga basah setinggi mata kaki. Di sinilah satir pembangunan bekerja: kita merayakan keberhasilan proyek, sementara air asin merayakan celah yang tertinggal.

Avicenna pernah menulis bahwa akal manusia mampu memahami sebab, tetapi tidak pernah memonopoli kebenaran. Di pesisir Surabaya, pelajaran ini terasa nyata. Mitigasi terlalu sering dipahami sebagai upaya menutup semua kemungkinan buruk, padahal sesungguhnya ia adalah seni menyiapkan diri menghadapi kemungkinan yang tak sepenuhnya bisa ditebak.

Risiko itu nyata dan terukur. Namu Surabaya sebaliknya, masih gemar dengan kesetaraan semu. Semua kecamatan ingin aman, semua ingin tanggul, semua ingin pompa. Padahal risikonya tidak sama. Dari sekitar 600 ribu penduduk yang tinggal di wilayah pesisir dan hilir sungai, setidaknya 180 ribu rumah tangga berada dalam risiko tinggi. Ketika banjir rob menimbulkan kerugian rata-rata Rp2,5 juta per rumah tangga per tahun, maka kerugian sosial mencapai sekitar Rp450 miliar. Angka ini cukup untuk membangun banyak monumen mitigasi, tetapi entah mengapa tidak cukup untuk mengubah cara berpikir. Tan Malaka barangkali akan menyebut ini sebagai paradoks pembangunan: kerugian yang besar justru tidak terasa karena dibagi ke terlalu banyak orang kecil. Risiko menjadi urusan pribadi, sementara mitigasi menjadi urusan proyek.
Namun Surabaya tidak sendirian menghadapi ironi ini. Belanda negeri yang sebagian wilayahnya berada di bawah permukaan laut menghadapi ketidakpastian serupa sejak ratusan tahun lalu. Rijkswaterstaat, lembaga pengelola air mereka, justru membangun pendekatan yang terdengar sederhana tetapi radikal: hidup bersama air, bukan melawannya.
Alih-alih menjanjikan keamanan mutlak, Rijkswaterstaat berbicara tentang acceptable risk, risiko yang disadari, dihitung, dan dikelola bersama. Dalam pendekatan ini, tanggul bukan satu-satunya jawaban. Ruang air, dataran banjir, restorasi ekosistem, dan desain kota yang memberi tempat bagi genangan justru dianggap investasi jangka panjang.

Secara kuantitatif, pendekatan ini masuk akal. Di Belanda, setiap 1 euro yang diinvestasikan untuk pencegahan dan adaptasi air diperkirakan menghemat 4–7 euro biaya pemulihan bencana. Angka ini bukan keajaiban, melainkan hasil konsistensi kebijakan lintas decade, sesuatu yang jarang dimiliki kota-kota pesisir di Indonesia.

Surabaya sebenarnya memiliki modal serupa. Dari sekitar 3.000 hektare kawasan pesisir dan sempadan sungai, masih ada ruang untuk pendekatan berbasis alam. Rehabilitasi mangrove berbasis komunitas, misalnya, terbukti lebih murah—Rp60–80 juta per hektare—dibanding proyek formal yang bisa mencapai Rp150 juta per hektare. Selain menahan air, mangrove juga menyerap karbon, memperbaiki kualitas air, dan melindungi mata pencaharian nelayan.

Rijkswaterstaat menyebut pendekatan ini sebagai multi-layer safety: perlindungan fisik, penataan ruang adaptif, dan kesiapsiagaan sosial. Jika diterjemahkan ke Surabaya, artinya mitigasi tidak berhenti pada tanggul dan pompa, tetapi juga pada keputusan berani untuk menjaga ruang terbuka pesisir, mengendalikan alih fungsi lahan, dan memperkuat kapasitas warga.
Elinor Ostrom akan menambahkan satu hal penting: kepercayaan. Sistem pengelolaan air yang tangguh hanya mungkin jika warga merasa menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar objek relokasi atau sosialisasi. Tanpa kepercayaan sosial, mitigasi akan selalu mahal dan rapuh.

Harapan itu ada, justru karena ketidakpastian tidak pernah hilang. Setiap rob yang datang mengingatkan bahwa kota ini masih hidup, masih bergerak, dan masih bisa belajar. Harapan bukan janji bebas banjir, bebas dari reklamasi melainkan keberanian untuk berubah dan mengembalikan Surabaya sebagai sebelum krisis memaksa.
Surabaya tidak perlu menjadi Amsterdam. Tetapi ia bisa belajar dari cara Belanda berhenti berperang dengan air dan mulai berdamai dengannya. Pesisir yang tangguh bukan pesisir yang kering selamanya, melainkan pesisir yang tahu ke mana air harus pergi, siapa yang harus dilindungi lebih dulu, dan berapa harga yang pantas dibayar untuk sebuah rasa aman.
Jika ketidakpastian adalah takdir kota pesisir, maka harapan lahir dari satu kesadaran sederhana: _air selalu datang, tetapi kita selalu punya pilihan bagaimana menyambutnya_
Salam MERDEKA DI LAUT INDONESIA MAJU

Editor : Hendro