Respon Alami Burnout Urban : Tren 'Me Time' di Gang Sempit Kota 

Tren 'Me Time' ngopi di sebuah warung kopi yang berada di sebuah gang sempit. (Foto Ist)
Tren 'Me Time' ngopi di sebuah warung kopi yang berada di sebuah gang sempit. (Foto Ist)

Gresik — Liburan ke Bali atau tempat wisata indah lainnya masih menjadi impian banyak orang. Namun, di tengah mahalnya harga tiket pesawat, akomodasi, dan kebutuhan hidup, tak sedikit dari  sebagian warga kota kini memilih cara berbeda untuk “healing”. 

Bukan terbang ke pulau dewata, melainkan mencari jeda di sudut-sudut kota yang sederhana. Rooftop rumah kontrakan, warung kopi di gang kecil, hingga taman kota yang tak begitu ramai.

Fenomena ini terlihat di sejumlah kota besar seperti Surabaya, Sidoarjo, Gresik, dan sekitarnya. Konsepnya sederhana, 'Me time' tanpa harus berbiaya yang besar.

Rina (29), karyawan swasta di Sidoarjo, mengaku rutin naik ke rooftop kontrakannya setiap Sabtu sore. Berbekal tikar, buku, dan segelas kopi, ia menikmati langit senja tanpa distraksi. 

“Dulu saya pikir healing itu harus ke luar kota. Sekarang cukup satu jam tanpa notifikasi, rasanya sudah recharge,” ujarnya.

Sementara itu, Arif (34), seorang pekerja pabrik di Gresik, menemukan ketenangan di warung kopi di gang sempit dekat rumahnya. Ia memilih datang di jam sepi, memesan kopi tubruk, dan berbincang ringan dengan pemilik warung.

 “Murah, dekat, dan suasananya lebih jujur. Saya tidak merasa harus tampil atau pamer,” ungkapnya dengan lugas.

Berbeda lagi dengan Siska (27), staf administrasi di Surabaya, yang memilih taman kota sebagai ruang refleksi. Ia memilih datang pagi hari sebelum jam kerja untuk berjalan kaki tanpa earphone. 

“Awalnya karena ingin sederhana dan hemat, lama-lama jadi kebiasaan. Lebih mindful lho..” tuturnya.

Psikolog klinis menyebut tren ini sebagai respons alami terhadap 'Burnout Urban'. Tekanan pekerjaan, kemacetan, dan tuntutan sosial membuat masyarakat kota rentan lelah secara mental.

“Healing tidak selalu soal lokasi eksotis. Yang dibutuhkan adalah rasa aman dan kendali atas waktu,” jelasnya.

Di sisi lain, tren 'Self Reward' juga meningkat di kalangan kelas menengah perkotaan. Namun bentuknya bergeser. Jika dulu identik dengan Staycation atau belanja besar, kini lebih banyak yang memilih pengalaman sederhana dan personal.Healing ala gang sempit kota ini membuktikan bahwa kebahagiaan tidak selalu mahal.

Di tengah tekanan ekonomi, sebagian warga menemukan cara realistis untuk tetap waras. Healing tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam, masih menjadi opsi solutif bagi sebagian masyarakat, meski dinamika kehidupan masyarakat urban terus mengalami peningkatan.

(Abdul)
 

Editor : Redaksi